Untuk ayah
Ayah sejajrkah aku dengan dirimu.
Bisakah aku sepertimu….
Sedang engkau semakin jauh dariku…
Saat aku berusaha sepertimu
Semakin jauh terlihat bahwa aku tidak seperti dirimu
Dan
Lebih keras aku berusaha seperti dirimu, semakin aku tak
mampu bias sepertimu.
Engkau bagai cahaya, sesekali sinarmu redup.
Namun dimataku , cahaya itu selalu berkilauan.
Terangkum di dalamnya gemintang juga rembulan.
Jalan fikiranmu tidak banyak dimengerti orang lain
Dalam setiap hal kesungguhanmu bukan yang dilihat mereka
Fikiranmu seperti hatiku. Aku merasa. Meski tak mengerti.
Kesungguhanmu seperti keinginanku menjadi dirimu.
Aku tersadar , kaulah dirimu yang sejati.
Ayah, bisakah aku sepertimu ?
Saat ini, aku merasa sepertimu saat aku berusaha mengerti tentantang kemelut
dirimu.
Aku merasa sepertimu, memikirkan sesuatu lebih dalam dari
akal.
Namun aku bukan dirimu.
Akulah-aku.
Dengan caraku, melewati hidup , dengan caraku…..dalam
bimbingan dan restumu.
Ayah semoga engkau , dalam doa’ku. Seperti harapmu.
Untuk ibu
tiada yang lebih sabar den mengerti.
Yang lebih bersinar dan indah selain dirimu.
Sungguh , kali ini aku selalu berfikir dengan cara apa semua
kemuliaan itu terbalas.
Mungkin jika kubuat suatu , tempat terindah di dunia ini
untukmu.
Takkan setara dengan apa yang kau beri.
Ibu aku menangis, sungguh aku pernah menangis dihadapmu
Untuk pertama kali. Setelah aku dewasa.
Dihadapannmu.
Dunia ini, banyak aku merasa. Betapa hal buruk itu
menyakitkan dirikku.
Namun tiada yang menyakitikku lebih dari apapun, seperti
saat aku melihatmu menangis karena diriku.
Ibu sungguh aku ingin membangun istana untukmu.
Menciptakan kebahagiaan di dalamnnya , segala kebahagiaan.
Namun yang kau harap adalah….
Kebahagiaannku.
Ibu aku menangis , saat kau menangis.
Terluka lebih dalam saat kau terluka.
Di bahtera ini kau adalah mawar, juga merpati.
Kau adalah segala kelemahan juga kekuatan
Maaf dariku, tidak dapat menyentuh hatimu.
Namun kasih sayangngmu di depan makhluk yang begtu dingin
Selalu terasa hangat.
Seperti apapun aku dimatamu, tiada henti kau bersabar.
Sejauh apapun aku melukaimu tiada berakhir kasih sayangmu.
Engkaulah , gadis yang kucintai sebelum dan setelah apapun.
engkaulah wanita pertama dalam hidup, yang menyentuh hatiku.
Bagiku warnamu takkan pudar di telan masa juga cinta yang
lain.
Untuk Kaka.
Kita dekat namun seperti ada sekat yang membatasi untuk
saling mendekat.
Aku tidak merasa begitu jauh denganmu, kaupun terasa dekat
disampingku.
Segala kebahagiaanmu , kuperhitungkan dengan akal.
Tiada yang kudapat selain aku kalah
Setarakah semua waktuku dengan waktumu.
Semua yang kau lewati, dengan kehidupanku.
Meski kita dekat dan terasa jauh.
Aku berharap kebaghagiaanmu lebih dari diriku.
Lihatlah, ada begitu banyak bintang di angkasa.
Meski aku bukan salah satu di antaranya.
Semoga….
Menjadi orang yang menemanimu menggapai bintang-bintang
Dalam doa, yang sejajar dengan waktu dan tak terbatas dalam
ruang
Berbahagialah , selagi itu ada dalam hidupmu.
Bersedihlah dan biar doa’ku melebur sedihmu
Tanpa ragu , aku ingin mengasihimu
Dalam waktu yang tak sempat kumiliki
Dan tak pernah kau temukan.
Untuk Adik
Jika aku harus menangis , aku ingin menangis untuk kalian.
Jika aku harus terluka, biarlah luka itu menjadi lukaku.
Tiada lagi yang kuharap selain kebahagiaan kalian.
Tiada lagi yang ku ingin selain senyumnya kelak
Biarlah aku terluka, demi melihat kalian dewasa dan tumbuh.
Karena itu bagiku akan lebih baik
Suatu saat…
Kalian akan tumbuh dan berkembang.
Maka saat itu jadilah manusia dewasa yang baik serta bijiak
Berpekerti luhur dan berguna.
Dan berbahgialah.
Bagiku kalian adalah alas an mengapa aku harus bahagia.
Menatap terbitnya mentari di atas pagi
Dan
Tersenyu di tengah dunia yang semakin terik