Ceritanya
duduk tiga pemuda tampan di depan kolam renang yang terletak di daerah citra
gading. katakanlah nama mereka tebo, eboy dan yang terakhir lelaki tampan tapi
tidak rupawan bernama rehan hahaha :D.
Hari
itu bertepatan dengan pelulusan sekolah menengah atas, sepulang acara
perpisahan semua keadaan terlihat baik-baik saja kami bertiga dan semua rekan-rekan
pulang dengan ceria setelah menanggalkan baju putih abu-abu dalam kenangan yang
begitu berwarna (corat-coret).
Pada
malam hari rehan, eboy dan tebo berkumpul bersama rekan-rekan yang lain di rumah eboy. Kami
semua saling berbagi tawa serta bercerita banyak hal tentang rencana setelah
lulus dari SMA. Semua mimpi dan harapan seolah terhimpun dalam satu bahtera
yang hendak dilayarkan di lautan luas.
Suasana
pada malam itu terasa hangat , seakan seluruh bahagia meliputi semua orang yang
duduk disana. Secangkir kopi yang di minum bersama-sama menjadikan suasana
semakin mesra , tentu kebahagiaan itu tidak akan pernah berlalu sampai
kapanpun.
Malam
yang semakin larut menghantarkan mereka pada perpisahan (bukan perpisahan
selamanya loh), rekan-rekan yang lain kembali menuju rumahnya masing-masing
kecuali rehan, tebo dan eboy. Mereka melanjutkan utnuk lebih banyak bercerita
satu sama lain.
Keheningan
malam menutup suara dan semua nada terasa samar seperti ada atau tiada
kehidupan . Mereka bertiga merasa jenuh
dan memutuskan untuk mencari udara segar di luar rumah. Inilah awal terjadinya
ikrar dibawah rembulan.
Setelah
semula mereka tertawa dan berbagi kebahagiaan bersama rekan rekan yang lain,
pada malam yang begitu hening ternyata ada luka yang tersembunyi dan terungkap
dengan segera. Sebelumya mereka berbagi tawa , namun sekarang mereka berbagi
luka satu sama lain. Berwal dari tebo yang begitu gelisah, entah apa yang
terjadi dengannya tidak ada satupun yang menanyakan. Dengan sendirinya tebo
bercerita kepada eboy dan rehan , tentang kegalauannya (inisih masalah cinta)
hahaha yang pada intinya si tebo patah hati gara-gara cewe yang dia suka di
gebet temennya, yah wajar lah yah namanya juga ABG patah hati itu biasa. Terkadang cinta memang ga harus memliki , tapi mencintai dengan hati yang besar menjadikan cinta itu semakin megah #asyekkk tararararaaa....... *.
Cerita
tentang tebo berakhir dengan penuh makna setelah setelah diberi tanggapan yang berliku oleh rehan dan eboy
#eaaaa. Selanjutnya si galau yang tampan dan tidak rupawan, tau kan yang mana
???, rehan sih bukan galau karena cinta,
tapi dia masih mikir mau kuliah dimana, ah emang makhluk satu ini rumit tiga
tahun sekolah apa aja yang dia pikirin (cewe kali yah) hahaha. Kenyataan
sebenarnya adalah si rehan ini mikirnya kejauhan, harusnya yang dia pikirin
saat itu adalah kuliah di jurusan yang dia suka, dia malah miikir gimana hari
esok setelah punya istri dan anak #ampun deh haha.
Dengan
jalan yang sama , keluh kesah rehan dilumat oleh kata-kata mutiara tebo sampai
keluh tersebut melebur menjadi semangat. Oke selanjutnya si eboy, orang ini
simple seperti apapun masalah yang ada di depannya se simple-simplenya pasti dia
beresin juga tau dong artinya apa???, gak ada satu pun keluh kesah yang berarti
baginya. Hehehe.
Memasuki
puncak malam dimana keadaan langit dan kehidupan dibumi semakin mati, mereka
bertiga yang saling menyadarkan satu sama lain akhirnya berikrar dibawah
rembulan, di awali oleh tebo. Dia berkata “ enam tahun dari sekarang kita
berjumpa lagi disini dengan membawa harapan masing-masing yang telah terpenuhi” okeee ujar rehan dan eboy , penuh semngat.
Skipppp……(mereka belajar di
universitas masing-masing)
Waktu
demi waktu berlalu, pada awal tahun pertama libur semester di bangku kuliah,
mereka berjumpa lagi dengan sorot mata yang lebih berbinar dari sebelumnya
sepertinya begitu banyak pengalaman yang ingin diceritakan. Ternyata banyak hal
yang berubah dari mereka bertiga, mereka lebih banyak belajar mengenai hidup di
bandingkan sebelumnya, serta mereka memandang hidup jauh lebih dalam dari
sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi pada ikrar yang sebelumnya di ucapkan
di bawah rembulan, terjaga atau tergantikan dengan yang lebih sempurna.
End.
“kami masih dalam suasana yang sama , menatap rembulaan dan merasakan
heningnya malam. Kami masih berada dalam hati yang sama, dengan harapan serta
mimpi yang begitu besar , dan kami akan terus berlari, hingga suatu pagi terbangun mengenang rembulan yang begitu
hangat menyapa malam….”
0 komentar:
Posting Komentar