Pages

Senin, 26 Januari 2015

Ikrar dibawah rembulan


                Ceritanya duduk tiga pemuda tampan di depan kolam renang yang terletak di daerah citra gading. katakanlah nama mereka tebo, eboy dan yang terakhir lelaki tampan tapi tidak rupawan bernama rehan hahaha :D.
                Hari itu bertepatan dengan pelulusan sekolah menengah atas, sepulang acara perpisahan semua keadaan terlihat baik-baik saja kami bertiga dan semua rekan-rekan pulang dengan ceria setelah menanggalkan baju putih abu-abu dalam kenangan yang begitu berwarna (corat-coret).
                Pada malam hari rehan, eboy dan tebo berkumpul bersama  rekan-rekan yang lain  di rumah eboy. Kami semua saling berbagi tawa serta bercerita banyak hal tentang rencana setelah lulus dari SMA. Semua mimpi dan harapan seolah terhimpun dalam satu bahtera yang hendak dilayarkan di lautan luas. 
                Suasana pada malam itu terasa hangat , seakan seluruh bahagia meliputi semua orang yang duduk disana. Secangkir kopi yang di minum bersama-sama menjadikan suasana semakin mesra , tentu kebahagiaan itu tidak akan pernah berlalu sampai kapanpun.
                Malam yang semakin larut menghantarkan mereka pada perpisahan (bukan perpisahan selamanya loh), rekan-rekan yang lain kembali menuju rumahnya masing-masing kecuali rehan, tebo dan eboy. Mereka melanjutkan utnuk lebih banyak bercerita satu sama lain.
                Keheningan malam menutup suara dan semua nada terasa samar seperti ada atau tiada kehidupan . Mereka  bertiga merasa jenuh dan memutuskan untuk mencari udara segar di luar rumah. Inilah awal terjadinya ikrar dibawah rembulan.
                Setelah semula mereka tertawa dan berbagi kebahagiaan bersama rekan rekan yang lain, pada malam yang begitu hening ternyata ada luka yang tersembunyi dan terungkap dengan segera. Sebelumya mereka berbagi tawa , namun sekarang mereka berbagi luka satu sama lain. Berwal dari tebo yang begitu gelisah, entah apa yang terjadi dengannya tidak ada satupun yang menanyakan. Dengan sendirinya tebo bercerita kepada eboy dan rehan , tentang kegalauannya (inisih masalah cinta) hahaha yang pada intinya si tebo patah hati gara-gara cewe yang dia suka di gebet temennya, yah wajar lah yah namanya juga ABG patah hati itu biasa. Terkadang cinta memang ga harus memliki , tapi mencintai dengan hati yang besar menjadikan cinta itu semakin megah #asyekkk tararararaaa....... *.
                Cerita tentang tebo berakhir dengan penuh makna setelah setelah diberi  tanggapan yang berliku oleh rehan dan eboy #eaaaa. Selanjutnya si galau yang tampan dan tidak rupawan, tau kan yang mana ???, rehan  sih bukan galau karena cinta, tapi dia masih mikir mau kuliah dimana, ah emang makhluk satu ini rumit tiga tahun sekolah apa aja yang dia pikirin (cewe kali yah) hahaha. Kenyataan sebenarnya adalah si rehan ini mikirnya kejauhan, harusnya yang dia pikirin saat itu adalah kuliah di jurusan yang dia suka, dia malah miikir gimana hari esok setelah punya istri dan anak #ampun deh haha.
                Dengan jalan yang sama , keluh kesah rehan dilumat oleh kata-kata mutiara tebo sampai keluh tersebut melebur menjadi semangat. Oke selanjutnya si eboy, orang ini simple seperti apapun masalah yang ada di depannya se simple-simplenya pasti dia beresin juga tau dong artinya apa???, gak ada satu pun keluh kesah yang berarti baginya. Hehehe.
                Memasuki puncak malam dimana keadaan langit dan kehidupan dibumi semakin mati, mereka bertiga yang saling menyadarkan satu sama lain akhirnya berikrar dibawah rembulan, di awali oleh tebo. Dia berkata “ enam tahun dari sekarang kita berjumpa lagi disini dengan membawa harapan masing-masing yang telah terpenuhi” okeee ujar rehan dan eboy , penuh semngat.


Skipppp……(mereka belajar di universitas masing-masing)


                Waktu demi waktu berlalu, pada awal tahun pertama libur semester di bangku kuliah, mereka berjumpa lagi dengan sorot mata yang lebih berbinar dari sebelumnya sepertinya begitu banyak pengalaman yang ingin diceritakan. Ternyata banyak hal yang berubah dari mereka bertiga, mereka lebih banyak belajar mengenai hidup di bandingkan sebelumnya, serta mereka memandang hidup jauh lebih dalam dari sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi pada ikrar yang sebelumnya di ucapkan di bawah rembulan, terjaga atau tergantikan dengan yang lebih sempurna.
End.


kami masih dalam suasana yang sama , menatap rembulaan dan merasakan heningnya malam. Kami masih berada dalam hati yang sama, dengan harapan serta mimpi yang begitu besar , dan kami akan terus berlari, hingga suatu pagi  terbangun mengenang rembulan yang begitu hangat menyapa malam….”
               
               


0 komentar:

Posting Komentar