Matahari pagi terasa menyilaukan setelah ibu membuka
gorden kamarku. Suasana di pedasaan memeng begitu sejuk , rasanya butuh
kekuatan besar untuk beranjak dari selimut yang hangat.
“rehan, bangun ini sudah
pagi , lihat keluar matahari begitu terang”
“emhhhhh… ngantuk bu”
“dasar pemalas ayo cepat
bangun”
“baik bu sebentar saja, aku
ingin memejamkan mata”
Ibu menghentikan teriak kerasnnya yang membuat sakit
telingaku. Setelah ibu keluar dari kamar , rasanya badanku seperti terikat oleh
selimut yang hangat ini. Akupun kembali melanjutkan tidur.
……..
“rehan kebiasaan , kamu
tidur lagi setelah ibu membangun kanmu… byurrrrr.
Setelah ibu menyiram air ke mukaku, aku beranjak bangun
dengan terpaksa dan memasakan diri, mau bagaimana lagi, jika tidak mungkin air
di kolam akan ibu bawa ke kamar untuk menyiramku.
“ayo cepat mandi, hari sudah
terlalu siang”
“iya bu , aku akan segera
mandi….huaaaaa”
Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi,
betapa berat seperta ada barbel yang terpasang pada dua betis kakiku. Selesai
mandi aku kembali ke kamar dan memakai pakaian , celana serampangan dan baju
yang sudah belel cirri khas seorang pemuda kampung pengangguran.
Di meja makan ibu sudah mempersiapkan nasi
serta lauk. Tahu, tempe, telur dan sayur serta segelas susu hangat, sarapan
empat sehat lima sempurna yang tidak dapat membangkitkan nafsu makan. Aku
memilih untuk pergi ke warung , membeli segelas kopi dan beberapa batang roko.
Selesai mempersiapkan sarapan pagiku, bergegas aku duduk di teras . menghisap
sebatang roko dan segelas kopi sungguh nikmat betul.
Teras yang berhadapan dengan jalan setapak depan rumah.
Terpaksa mataku memandang kea rah jalan itu.orang-orang memakai seragam resmi,
lalu-lalang melintas disana. Terkadang aku merasa malu, jika ada salah seorang
yang menatapku dengan senyum menjijikan dan ada juga yang menatap begitu ramah
, membuatku semakin malu.
Rasanya butuh wajah yang tebal untuk berlama-lama duduk
di depan teras. Aku menuju sebuah ruangan di dalam rumah. Ruangan itu
satu-satunya tempat untuk mencurahkan segala isi hati , keluh kesah dan
bersembunyi dari kenyataan. Aku menyalakan mesin tik tua , yang sudah kupakai
sejak sekolah menengah pertama. Kondisinyapun tidak begitu baik. Seperti biasa ,
dengan mesin tik tua itu aku menuliskan sajak-sajak sesuka hatiku.
”mentari terlihat sama setiap paginya,bersinar dan memberikan kehidupan
bagi alam. Tapi bagiku semua hari terasa sama. Ruangan ini, teras rumah ,dan
kamar tempat tidur”
Sampai sajak-sajak selanjutnya, selanjutnya dan
selanjutnya. Tidak berbeda selain berisi-keluhan-keluhan yang tidak merubah
apapun. Waktu demikian cepat berlalu.adzan dzhur terdengar berkumanang.
“rehan , berhenti main
laptop shalat dzuhur”
“hmmm, cerewet itu kewajiban
tenang aja gak bakal lupa”
‘bukan gitu, ibu hanya
mengingatkan”
Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana pendidikan ,
setiap hari tidak ada hal berguna yang dapat kulakukan. Menonton tivi, membuat
sajak tak berguna, duduk di teras dan hal lain. Sangat sulit untuk mendapatkan
pekerjaan . dunia pendidikan yang dekat dengan persaingan intelektual ,bukan
tempat bagi orang dengan otak pas-pasan sepertiku. Sedangkan di luar sana ada
ribuan lulusan sarjana pendidikan setiap tahunnya, mungkinsaja 50% dari mereka adlah
orang-orang yang kompeten dan mudah mendapatkan tempat di dunia pendidikan.
Sedangkan sisanya sama sepertiku , pengangguran yang tidak berguna atau orang
yang berhasil mengadu nasib di bidang lain.
“kapan kamu mau mencari
kerja”
“ah, kerja apa sih bu”
“kamu lulusan sarjana, tentu
bisa menjadi seorang guru”
“susah bu, sekolah-sekolah
hanya menerima orang-orang professional dan berkemampuan di bidang pendidikan”
“tidak ada salahnya kan kamu
mencoba”
“ah sudahlah bu”
Kembali ke tempat tidur yang hangat , sedikit melamunkan
masa-masa kuliah menjadi bunga nyata sebelum tidur. Betapa indahnya dunia
remaja itu. Tiba-tiba handponeku berbunyi..Satu pesan masuk dari kawan lama di
bangku kuliah dulu. Ia memberi tahu bahwa besok ada reuni alumni universitas
angkatanku. Ingin rasanya hadir namun title pengangguran , membuatku merasa
minder. Entahlah , bagaimana besok saja.
Seperti biasa ,matahari yang menyilaukan mata menyorot
mataku.kali ini sekali mendengar teriakan ibu, aku beranjak bangun dan mandi. Kali ini , pakaian
yang sedikit rapi melekat pada tubuhku.
“mau kemana kamu?”
“ada acara reuni kampus bu”
“punya uang?”
“engga… “
begitulah pengngguran, tidak memiliki uang selain
pemberian dari ibu. Terkadang, tak enak hati menerima uang itu, tapi apa yang bias
ku perbuat inilah kenyataan tentang seorang pengangguran. Perasaan bimbang
masih saja menghantui, aku rindu kepada kawan-kawan tapi aku juga merasa malu
jika mereka bertanya pekerjaanku. Sudahlah semuanya bagaimana nanti, ketika aku
bertemu teman-teman disana.
“aku berangkat bu,
assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Sesampainya di universitas tempat di adakannya reuni.
Terlihat kerumunan berpakaian gagah dan rapi. Lebih dekat aku melihat,
langkahku hanya terhenti di depan gerbang kampus. Ternyata mereka adalah
teman-teman msemasa kuliah dulu. Betapa mindernya aku , tidak ada keberanian
untuk menemui mereka. Sebaiknya aku tidak menghampiri mereka. Memilih duduk dan
berbincang banyak hal dengan penjual es di seberang kampus akan lebih baik. aku
dan si penjual yang dulu dekat berbincang banyak hal. Namun, pembicaraan
tersebut berujung pada pertanyaan yang sulit ku jawab.
Di tempat itu aku melihat ada seorang perempuan dari arah
kampus mendekat kesini. Aku berfikir mungkin mahasiswa yang masih kuliah. Gadis
tersebut datang dan tepat berada di hadapnku wajahnya tidak asing.
“rehan, benerkan ini rehan
temen satu kampus dulu yang tidak suka membawa tas.”
“iah betul, kamu siapa”
“ini nisa, baru tiga tahun
masa sudah tidak ingat”
Nisa terlihat sangat cantik sekarang , berbeda dari nisa
sebelumnya yang ku kenal. Jelas saja ku lupa , karena perubahan yang begitu
jauh berbeda ,jika di bandingkan semasa kuliah dan sekarang.
“bukan lupa, nisa terlihat
berbeda sekarang”
“apanya yang berbeda,
perasaan sama saja”
“engga,nisa lebih..”
“lebih apa…rehan”
“lebih cantik dari
sebelumya”
“ah rehan bias aja, “
Saat aku mengatakan dia cantik nisa tersenyum
kepdaku.jantung berdegup kencang, entah takut jika dihadapkan dengan pertanyaan
mengerikan atau merasa senang melihat nisa tersenyum. Hari itu seperti terjadi
kekacauan di dalam hatiku. Nisa duduk berhadapan denganku dan memesan segelas
jus. Jantungku masih saja berdegup kencang.
Aku masih saja memikirkan , pertanyaan mengerikan itu.
Dengan sebaikmungkin, aku berusaha agar obrolan kami tidak menjurus kea rah
sana. Tapi pada akhirnya, pertanyaan mengeriakn itu muncul dari bibir nisa yang
manis.
“rehan sekarang kamu sudah
mengajar atau ada pekerjaan lain?”
“amm…emmm… kalau nisa gimana”
Aku mengelak pertanyaan dari nisa, mengalihkan
pembicaraan ke arah lain. Semakin aku menjauhkan pembicaraan dan berusaha mengelak
pertanyaan nisa sepertinya kepalaku berhenti untuk merangkai kata dan memulai
pembicaraan lagi.
“tadi pertanyaan nisa belum
di jawab”
“pertanyaan apa?”
“rehan, sudah mengajar atu
memiliki pekerjaan lain?”
Aku terdiam beberapa saat. Betapa sulitnya untuk menjawab
pertanyaan nisa dan jujur kepadanya bahwa aku
belum memiliki pekerjaan.
“ko bengong, jadi bagaiman?”
“rehan , belum kerja nis,
masih menganggur”
“oh gitu , kenapa gak bilang
dari tadi”
Lagi-lagi nisa tersenyum, dan hatikupun berdegup kencang
melihat senyumnya. Entah apa yang termaksud di balik senyumnya, akupun merasa
bingung. Setelah itu nisa meminta nomor handponeku, akupun memberinya dengan
penuh pertanyaan dalam hati.
“rehan nisa ke temen-temen
yang lain dulu yah, ayo rehan juga ikut”
“enggak nisa duluan, malu”
“ko malu?, yaudah nisa
kesana”
Nisa pergi dengan tersenyum , seolah dia mengerti
perasaanku. Merasa tak nyaman duduk di penjual jus depan kampus akupun pergi
dan pulang menuju rumah. Sampai dirumah, setelah sekian lama tidak berkendara
menuju kampus badan terasa sangat pegal.
Langit malam begitu gelap, hanya ada titik kecil yang
terlihat dari kejauhan. Mungkin sebemtar lagi hujan akan turun. Saat aku
memandang langit yang begitu luas, telepon bordering. Ternyata aku mendapat
panggilan dari nisa , gadis yang tadi kutemui. Nisa berbicara begitu ramah di
telepon, kami mengobrol sangat lama. Seperti yang sebelumnya hal mengerikan itu
hadir seperti terror , lagi-lagi nisa menanyakan pekerjaanku dan rencanaku
untuk mendapatkan pekerjaan. Aku berusaha menjawab pertanyaan nisa dengan jujur
, dan berbicara padanya bahwa tidak ada planning untuk mencari pekerjaan. Nisa
memarahiku, tetapi nadanya yang begitu lembut, terdengar seperti ia tidak
sedang marah. Dengan kata-kata bijaksana beberapa nasehat kuterima dari nisa,
sungguh setelah itu seluruh semangat , harapan , dan impian kembali bangkit
setelah sekian lama hilang.
Percakapan berakhir. Malam hari terlewati dengan begitu
indah. Tanpa teriakan ibu aku bangun dengan segera . ini adalah pagi yang
sempurna, ada cukup banyak amunisi untuk kembali memulai hidup. Seselesainya
mandi , pakaian sedikit resmi menghias tubuhku. Duduk di meja makan dan menyantap
makanan yang telah ibu siapkan.
“mau kemana kamu ko rapi
sekali”
“rencana mau melamar di SD
bu”
“wah.. alhamdulilah”
Ibu tersenyum, dengan mata yang berbinar serta penuh
harap. Seolah mengatakan, semoga anakku mendapatkan pekerjaan. Amunisi terisi
penuh setelah melihat senyum ibu, sudah lebih dari cukup untuk memberiku
semangat dalam melangkah. Aku pergi menuju sebuah SD di daerah terpencil.
Sekolah itu terlihat kumuh dan tak terurus, namun tidak memalingkan mataku dan
membuat tubuhku berbalik untuk kembali. Setelah berbicara dengan kepala sekolah
dan memberitahunya tujuanku datang kesini. Kepela sekolah menyambutku dangan
tangan terbuka , ia sangat senang jika
ada generasi muda sepertiku yang mau mengabdikan dirinya untuk pendidikan.
Betapa leganya aku, diterima mengajar walau di sekolah terpencil ini.
Sudah sampai rumah, cukup melelahkan karena jalannnya
yang terjal dan berbatu. Ibu menyambutku dengan senyum dan matanya yang sangat
berbinar.
“bagaimana, apakah kamu di
terima?”
“alhamdulilah bu aku di
terima”
Betapa senangnya ibu, melihat anaknya mendapatkan
pekerjaan. Meskipun sebagai guru honorer , namun tidak masalah. Dalam
pengabdian, memberi tanpa imbalan adalah keutamaan yang nantinya akan
menghantarkan kita menuju kebahagiaan hidup sejati.
Sperti sebelumnya malam masih saja terlihat sama, mendung
dan hanya ada beberapa titik kecil di angkasa yang terlihat dari sini. Sejenak
aku melamun, haruskah aku memberitahu kepada nisa. Jika kuberitahu, tidak ada
yang membanggakan toh aku hanya guru honorer di sekolah terpencil. Trinittt….trinittt…..
teleponku bordering . panggilan dari nisa, sungguh ajaib, seakan nisa tau bahwa
aku ragu hendak meneleponnya. Kami berbicara banyak lagi, suara nisa terdengar
sama merdunya. Kali ini pertanyaan mengerikan itu tidak akan semengerikan dari
sebelumnya. Aku memberitahu kepada nisa bahwa , sudah mengajar di sebuah
sekolah terpencil dan tidak mendapat gaji yang cukup selain untuk bensin dan
kopi. Nisa sepertinya sangat bahagia, aku merasa heran. Gadis ini memang rumit.
Mengajar di sekolah terpencil dengan gajih yang minus , apa hebatnya.
“semangat….sampai berjumpa lagi dalam wakti dekat. Amin”
Kata-kata penutup yang menyentuh hati. Inilah jalan, yang
mempertemukan kami. Dahulu mungkin mawar sedikit bersemi dalam hati. Pertemuan
ini menghidupkan apa yang telah layu. Kami tidak pernah mengira ada yang
kembali, segala rasa yang terkikis oleh waktu.
Bertemu nisa sungguh menjadi kebahagiaan , bukan sakedar
bahagi tapi juga aku kemabli menemukan warna hidupku dan berani untuk
melangkah. Suatu haru aku ingin menangis bersamanya dan membangun sebuah rumah
yang megah.”istana kami”. Dan aku hanya berharap tuhan berbaik hati untuk
mempertemukan kami kembali .
(end)
0 komentar:
Posting Komentar