Pages

Kamis, 05 Februari 2015

Lautan imajinasi : cinta seribu wujud


            Matahari pagi terasa menyilaukan setelah ibu membuka gorden kamarku. Suasana di pedasaan memeng begitu sejuk , rasanya butuh kekuatan besar untuk beranjak dari selimut yang hangat.
“rehan, bangun ini sudah pagi , lihat keluar matahari begitu terang”
“emhhhhh… ngantuk bu”
“dasar pemalas ayo cepat bangun”
“baik bu sebentar saja, aku ingin memejamkan mata”
            Ibu menghentikan teriak kerasnnya yang membuat sakit telingaku. Setelah ibu keluar dari kamar , rasanya badanku seperti terikat oleh selimut yang hangat ini. Akupun kembali melanjutkan tidur.
……..
“rehan kebiasaan , kamu tidur lagi setelah ibu membangun kanmu… byurrrrr.
            Setelah ibu menyiram air ke mukaku, aku beranjak bangun dengan terpaksa dan memasakan diri, mau bagaimana lagi, jika tidak mungkin air di kolam akan ibu bawa ke kamar untuk menyiramku.
“ayo cepat mandi, hari sudah terlalu siang”
“iya bu , aku akan segera mandi….huaaaaa”
            Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi, betapa berat seperta ada barbel yang terpasang pada dua betis kakiku. Selesai mandi aku kembali ke kamar dan memakai pakaian , celana serampangan dan baju yang sudah belel cirri khas seorang pemuda kampung pengangguran.
                        Di meja makan ibu sudah mempersiapkan nasi serta lauk. Tahu, tempe, telur dan sayur serta segelas susu hangat, sarapan empat sehat lima sempurna yang tidak dapat membangkitkan nafsu makan. Aku memilih untuk pergi ke warung , membeli segelas kopi dan beberapa batang roko. Selesai mempersiapkan sarapan pagiku, bergegas aku duduk di teras . menghisap sebatang roko dan segelas kopi sungguh nikmat betul.
            Teras yang berhadapan dengan jalan setapak depan rumah. Terpaksa mataku memandang kea rah jalan itu.orang-orang memakai seragam resmi, lalu-lalang melintas disana. Terkadang aku merasa malu, jika ada salah seorang yang menatapku dengan senyum menjijikan dan ada juga yang menatap begitu ramah , membuatku semakin malu.
            Rasanya butuh wajah yang tebal untuk berlama-lama duduk di depan teras. Aku menuju sebuah ruangan di dalam rumah. Ruangan itu satu-satunya tempat untuk mencurahkan segala isi hati , keluh kesah dan bersembunyi dari kenyataan. Aku menyalakan mesin tik tua , yang sudah kupakai sejak sekolah menengah pertama. Kondisinyapun tidak begitu baik. Seperti biasa , dengan mesin tik tua itu aku menuliskan sajak-sajak sesuka hatiku.
mentari terlihat sama setiap paginya,bersinar dan memberikan kehidupan bagi alam. Tapi bagiku semua hari terasa sama. Ruangan ini, teras rumah ,dan kamar tempat tidur”
            Sampai sajak-sajak selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Tidak berbeda selain berisi-keluhan-keluhan yang tidak merubah apapun. Waktu demikian cepat berlalu.adzan dzhur terdengar berkumanang.
“rehan , berhenti main laptop shalat dzuhur”
“hmmm, cerewet itu kewajiban tenang aja gak bakal lupa”
‘bukan gitu, ibu hanya mengingatkan”
            Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana pendidikan , setiap hari tidak ada hal berguna yang dapat kulakukan. Menonton tivi, membuat sajak tak berguna, duduk di teras dan hal lain. Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan . dunia pendidikan yang dekat dengan persaingan intelektual ,bukan tempat bagi orang dengan otak pas-pasan sepertiku. Sedangkan di luar sana ada ribuan lulusan sarjana pendidikan setiap tahunnya, mungkinsaja 50% dari mereka adlah orang-orang yang kompeten dan mudah mendapatkan tempat di dunia pendidikan. Sedangkan sisanya sama sepertiku , pengangguran yang tidak berguna atau orang yang berhasil mengadu nasib di bidang lain.
“kapan kamu mau mencari kerja”
“ah, kerja apa sih bu”
“kamu lulusan sarjana, tentu bisa menjadi seorang guru”
“susah bu, sekolah-sekolah hanya menerima orang-orang professional dan berkemampuan di bidang pendidikan”
“tidak ada salahnya kan kamu mencoba”
“ah sudahlah bu”
            Kembali ke tempat tidur yang hangat , sedikit melamunkan masa-masa kuliah menjadi bunga nyata sebelum tidur. Betapa indahnya dunia remaja itu. Tiba-tiba handponeku berbunyi..Satu pesan masuk dari kawan lama di bangku kuliah dulu. Ia memberi tahu bahwa besok ada reuni alumni universitas angkatanku. Ingin rasanya hadir namun title pengangguran , membuatku merasa minder. Entahlah , bagaimana besok saja.
            Seperti biasa ,matahari yang menyilaukan mata menyorot mataku.kali ini sekali mendengar teriakan ibu, aku  beranjak bangun dan mandi. Kali ini , pakaian yang sedikit rapi melekat pada tubuhku.
“mau kemana kamu?”
“ada acara reuni kampus bu”
“punya uang?”
“engga… “
            begitulah pengngguran, tidak memiliki uang selain pemberian dari ibu. Terkadang, tak enak hati menerima uang itu, tapi apa yang bias ku perbuat inilah kenyataan tentang seorang pengangguran. Perasaan bimbang masih saja menghantui, aku rindu kepada kawan-kawan tapi aku juga merasa malu jika mereka bertanya pekerjaanku. Sudahlah semuanya bagaimana nanti, ketika aku bertemu teman-teman disana.
“aku berangkat bu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
            Sesampainya di universitas tempat di adakannya reuni. Terlihat kerumunan berpakaian gagah dan rapi. Lebih dekat aku melihat, langkahku hanya terhenti di depan gerbang kampus. Ternyata mereka adalah teman-teman msemasa kuliah dulu. Betapa mindernya aku , tidak ada keberanian untuk menemui mereka. Sebaiknya aku tidak menghampiri mereka. Memilih duduk dan berbincang banyak hal dengan penjual es di seberang kampus akan lebih baik. aku dan si penjual yang dulu dekat berbincang banyak hal. Namun, pembicaraan tersebut berujung pada pertanyaan yang sulit ku jawab.
            Di tempat itu aku melihat ada seorang perempuan dari arah kampus mendekat kesini. Aku berfikir mungkin mahasiswa yang masih kuliah. Gadis tersebut datang dan tepat berada di hadapnku wajahnya tidak asing.
“rehan, benerkan ini rehan temen satu kampus dulu yang tidak suka membawa tas.”
“iah betul, kamu siapa”
“ini nisa, baru tiga tahun masa sudah tidak ingat”
            Nisa terlihat sangat cantik sekarang , berbeda dari nisa sebelumnya yang ku kenal. Jelas saja ku lupa , karena perubahan yang begitu jauh berbeda ,jika di bandingkan semasa kuliah dan sekarang.
“bukan lupa, nisa terlihat berbeda sekarang”
“apanya yang berbeda, perasaan sama saja”
“engga,nisa lebih..”
“lebih apa…rehan”
“lebih cantik dari sebelumya”
“ah rehan bias aja, “

            Saat aku mengatakan dia cantik nisa tersenyum kepdaku.jantung berdegup kencang, entah takut jika dihadapkan dengan pertanyaan mengerikan atau merasa senang melihat nisa tersenyum. Hari itu seperti terjadi kekacauan di dalam hatiku. Nisa duduk berhadapan denganku dan memesan segelas jus. Jantungku masih saja berdegup kencang.
            Aku masih saja memikirkan , pertanyaan mengerikan itu. Dengan sebaikmungkin, aku berusaha agar obrolan kami tidak menjurus kea rah sana. Tapi pada akhirnya, pertanyaan mengeriakn itu muncul dari bibir nisa yang manis.
“rehan sekarang kamu sudah mengajar atau ada pekerjaan lain?”
“amm…emmm… kalau nisa gimana”
            Aku mengelak pertanyaan dari nisa, mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Semakin aku menjauhkan pembicaraan dan berusaha mengelak pertanyaan nisa sepertinya kepalaku berhenti untuk merangkai kata dan memulai pembicaraan lagi.
“tadi pertanyaan nisa belum di jawab”
“pertanyaan apa?”
“rehan, sudah mengajar atu memiliki pekerjaan lain?”
            Aku terdiam beberapa saat. Betapa sulitnya untuk menjawab pertanyaan nisa dan jujur kepadanya bahwa aku  belum memiliki pekerjaan.
“ko bengong, jadi bagaiman?”
“rehan , belum kerja nis, masih menganggur”
“oh gitu , kenapa gak bilang dari tadi”
            Lagi-lagi nisa tersenyum, dan hatikupun berdegup kencang melihat senyumnya. Entah apa yang termaksud di balik senyumnya, akupun merasa bingung. Setelah itu nisa meminta nomor handponeku, akupun memberinya dengan penuh pertanyaan dalam hati.
“rehan nisa ke temen-temen yang lain dulu yah, ayo rehan juga ikut”
“enggak nisa duluan, malu”
“ko malu?, yaudah nisa kesana”
            Nisa pergi dengan tersenyum , seolah dia mengerti perasaanku. Merasa tak nyaman duduk di penjual jus depan kampus akupun pergi dan pulang menuju rumah. Sampai dirumah, setelah sekian lama tidak berkendara menuju kampus badan terasa sangat pegal.
            Langit malam begitu gelap, hanya ada titik kecil yang terlihat dari kejauhan. Mungkin sebemtar lagi hujan akan turun. Saat aku memandang langit yang begitu luas, telepon bordering. Ternyata aku mendapat panggilan dari nisa , gadis yang tadi kutemui. Nisa berbicara begitu ramah di telepon, kami mengobrol sangat lama. Seperti yang sebelumnya hal mengerikan itu hadir seperti terror , lagi-lagi nisa menanyakan pekerjaanku dan rencanaku untuk mendapatkan pekerjaan. Aku berusaha menjawab pertanyaan nisa dengan jujur , dan berbicara padanya bahwa tidak ada planning untuk mencari pekerjaan. Nisa memarahiku, tetapi nadanya yang begitu lembut, terdengar seperti ia tidak sedang marah. Dengan kata-kata bijaksana beberapa nasehat kuterima dari nisa, sungguh setelah itu seluruh semangat , harapan , dan impian kembali bangkit setelah sekian lama hilang.
            Percakapan berakhir. Malam hari terlewati dengan begitu indah. Tanpa teriakan ibu aku bangun dengan segera . ini adalah pagi yang sempurna, ada cukup banyak amunisi untuk kembali memulai hidup. Seselesainya mandi , pakaian sedikit resmi menghias tubuhku. Duduk di meja makan dan menyantap makanan yang telah ibu siapkan.
“mau kemana kamu ko rapi sekali”
“rencana mau melamar di SD bu”
“wah.. alhamdulilah”
            Ibu tersenyum, dengan mata yang berbinar serta penuh harap. Seolah mengatakan, semoga anakku mendapatkan pekerjaan. Amunisi terisi penuh setelah melihat senyum ibu, sudah lebih dari cukup untuk memberiku semangat dalam melangkah. Aku pergi menuju sebuah SD di daerah terpencil. Sekolah itu terlihat kumuh dan tak terurus, namun tidak memalingkan mataku dan membuat tubuhku berbalik untuk kembali. Setelah berbicara dengan kepala sekolah dan memberitahunya tujuanku datang kesini. Kepela sekolah menyambutku dangan tangan terbuka , ia sangat  senang jika ada generasi muda sepertiku yang mau mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Betapa leganya aku, diterima mengajar walau di sekolah terpencil ini.
            Sudah sampai rumah, cukup melelahkan karena jalannnya yang terjal dan berbatu. Ibu menyambutku dengan senyum dan matanya yang sangat berbinar.
“bagaimana, apakah kamu di terima?”
“alhamdulilah bu aku di terima”
            Betapa senangnya ibu, melihat anaknya mendapatkan pekerjaan. Meskipun sebagai guru honorer , namun tidak masalah. Dalam pengabdian, memberi tanpa imbalan adalah keutamaan yang nantinya akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan hidup sejati.
            Sperti sebelumnya malam masih saja terlihat sama, mendung dan hanya ada beberapa titik kecil di angkasa yang terlihat dari sini. Sejenak aku melamun, haruskah aku memberitahu kepada nisa. Jika kuberitahu, tidak ada yang membanggakan toh aku hanya guru honorer di sekolah terpencil. Trinittt….trinittt….. teleponku bordering . panggilan dari nisa, sungguh ajaib, seakan nisa tau bahwa aku ragu hendak meneleponnya. Kami berbicara banyak lagi, suara nisa terdengar sama merdunya. Kali ini pertanyaan mengerikan itu tidak akan semengerikan dari sebelumnya. Aku memberitahu kepada nisa bahwa , sudah mengajar di sebuah sekolah terpencil dan tidak mendapat gaji yang cukup selain untuk bensin dan kopi. Nisa sepertinya sangat bahagia, aku merasa heran. Gadis ini memang rumit. Mengajar di sekolah terpencil dengan gajih yang minus , apa hebatnya.
semangat….sampai berjumpa lagi dalam wakti dekat. Amin”
            Kata-kata penutup yang menyentuh hati. Inilah jalan, yang mempertemukan kami. Dahulu mungkin mawar sedikit bersemi dalam hati. Pertemuan ini menghidupkan apa yang telah layu. Kami tidak pernah mengira ada yang kembali, segala rasa yang terkikis oleh waktu.
            Bertemu nisa sungguh menjadi kebahagiaan , bukan sakedar bahagi tapi juga aku kemabli menemukan warna hidupku dan berani untuk melangkah. Suatu haru aku ingin menangis bersamanya dan membangun sebuah rumah yang megah.”istana kami”. Dan aku hanya berharap tuhan berbaik hati untuk mempertemukan kami kembali .

(end)


             

0 komentar:

Posting Komentar